Saat saya pertama kali memegang kuas pada usia sepuluh tahun, saya merasa seolah-olah menemukan bagian dari diri saya yang sudah lama hilang. Waktu itu adalah sore yang tenang di rumah nenek, dengan cahaya matahari sore yang menyelinap melalui jendela. Dengan setiap sapuan kuas, warna-warna cerah mulai hidup di atas kanvas, dan dunia seakan terbuka untuk saya. Namun, seperti halnya perjalanan artistik lainnya, jalan saya tidak selalu mulus.
Bertahun-tahun kemudian, saat berusia dua puluh lima dan menetap di Jakarta yang ramai, mimpi menjadi seniman visual profesional terasa semakin jauh. Teman-teman sekitar beralih ke karir yang lebih ‘aman’ – pekerjaan tetap dengan gaji bulanan. Di sisi lain, saya terjebak dalam dilema antara mengejar passion dan memenuhi ekspektasi masyarakat akan stabilitas finansial. Saya ingat percakapan dengan ibu saya saat itu: “Kenapa tidak jadi guru seni saja? Itu pekerjaan yang lebih pasti,” katanya sambil menatap khawatir.
Tantangan ini memunculkan banyak keraguan dalam diri saya. Apakah seni benar-benar dapat memberikan kehidupan yang layak? Atau akankah semua usaha ini sia-sia? Ada kalanya semangat itu hampir pudar ketika melihat rekan-rekan seusia meraih kesuksesan dalam bidang lain. Saya merasa terasing di dunia kreatif ini.
Dari titik terendah itu, ada momen refleksi penting. Saya mengambil langkah mundur untuk merenungkan apa artinya bagi saya menjadi seorang seniman—bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga bagi orang-orang di sekitar saya. Dalam pencarian identitas ini, satu pengalaman menjadi titik balik: pameran seni lokal yang diselenggarakan oleh komunitas kreatif setempat.
Pameran tersebut mempertemukan berbagai seniman dari latar belakang berbeda—mereka berbagi cerita hidup mereka melalui karya masing-masing. Di situlah saya mendengar seorang pematung berkata, “Seni bukan tentang mencari pengakuan; itu adalah tentang berbagi kebenaran.” Kalimat tersebut menggugah kesadaran dalam diri saya bahwa kreativitas harus bisa bersinergi dengan realita hidup kita.
Dari situasi inilah lahir beberapa karya baru; mencoba menggabungkan ide-ide eksploratif tentang kehidupan sehari-hari dan tantangan sosial melalui seni rupa visual. Dalam kurun waktu enam bulan berikutnya, hasilnya terlihat – lukisan-lukisan ini bukan hanya sekedar estetik tetapi juga membawa pesan mendalam tentang eksistensi manusia dalam konteks kota modern.
Akhirnya pada tahun 2021, setelah bertahun-tahun berjuang dengan ide-ide tersebut dan menyesuaikan harapan terhadap kenyataan hidup sebagai seniman freelance, pameran tunggal pertama berhasil dilaksanakan di sebuah galeri kecil dekat rumah salah satu teman dekat.ivisgallery menjadi tempat dimana karya-karya itu dipresentasikan kepada publik untuk pertama kalinya secara resmi.
Momen pembukaan adalah salah satu hari paling mendebarkan sekaligus menggembirakan dalam hidup saya; ada lebih dari seratus pengunjung datang untuk melihat hasil kerja keras selama bertahun-tahun! Dialog langsung antara penonton dan karya-karya lukisan menciptakan ruang untuk diskusi mendalam mengenai tema-tema kontemporer seperti ketidakadilan sosial dan harapan masa depan.
Dari seluruh proses tersebut muncul pelajaran krusial bahwa seni dapat menjadi medium penyampai suara tanpa harus kehilangan realita keseharian kita sebagai seniman atau individu biasa. Mimpi tidak selalu berarti meninggalkan kenyataan; kadangkala mimpi tersebut justru bisa dipenuhi dengan cara-cara kreatif menghadapi tantangan sehari-hari.
Saya belajar bahwa kombinasi antara dedikasi pribadi kepada seni serta kemampuan beradaptasi terhadap kondisi sekitar sangatlah vital bagi seorang seniman modern saat ini. Sebagai penutup dari kisah perjalanan ini—seni telah mengajarkan banyak hal kepada saya tentang ketekunan dan kejujuran diri; pelajaran berharga tentang bagaimana tetap selaras antara kreativitas dan realita seringkali berada tepat pada titik pertemuan kedua dunia tersebut.
Dunia hiburan digital telah mengalami pergeseran paradigma yang sangat signifikan, terutama dalam cara sistem memproses…
Banyak orang terjun ke dunia slot cuma bermodalkan "insting" atau "bisikan gaib". Padahal, kalau lu…
Di tahun 2026, dunia hiburan digital telah bertransformasi menjadi sebuah galeri yang penuh dengan data…
Selamat datang di Ivis Gallery. Di dunia seni rupa, kita terbiasa membahas hal-hal teknis: komposisi…
Menjelang perhelatan sepak bola terbesar di jagat raya yang akan berlangsung di Amerika Utara, volume…
Setiap dapur punya cerita, dan cerita yang paling kuat biasanya lahir dari kebiasaan sederhana yang…